Kamu tau kan gimana rasanya saat wajah kita penuh jerawat, tapi kita terpaksa harus ketemu dengan orang?
Ih, rasanya malu, minder, tidak percaya diri..
Rasanya lebih baik menyendiri saja di kamar dan tidak usah ketemu siapapun.
Iya kan?
Kalau iya, kita sama..
Assalamualaikum.wr.wb.
Halo semua, perkenalkan, namaku Reni Fitasari.
Rumahku di Sleman, Yogyakarta.
Nah, di kesempatan kali ini, ijinkan aku untuk sedikit berbagi cerita tentang bagaimana perjuanganku melawan jerawat parah yang hinggap bertahun-tahun di wajahku sejak gadis dulu, hingga bisa beres tuntas hanya dalam waktu 9 hari saja dengan 3 trik kunci ini.
Apa saja 3 trik kunci itu?
Yuk simak dulu ceritanya..
Pagi itu, jam menunjukkan pukul 07.10.
Udara pagi yg biasanya sejuk saat di Jogja, hari itu terasa agak sedikit hangat karena saat itu kami sedang berada di rumah budhe suami di Solo.
Dari ruang depan, terdengar suara riuh rendah para keponakan budhe yang sedang asyik berdandan.
Ada yg sibuk mecoba baju, ada yg memakai make up, ada juga yg sibuk berfoto dan update status.
Hari itu adalah hari pernikahan anak budhe..
Namun, ketika yg lain sibuk dandan dan berfoto ria, aku hanya bisa duduk menyendiri di pojokan ruang makan sambil nyemil sepiring buah anggur hijau..
Aku tidak berani ikut dandan seperti yg lain, karena pada saat itu jerawatku sedang parah-parahnya.
Awal mula munculnya jerawatku sebenarnya sudah dimulai sejak masih gadis.
Dulu, aku bekerja di sebuah pabrik tekstil di Bantul, Jogja.
Nah, udara di dalam pabrik itu panas, lembab dan berdebu.
Udara semacam ini bikin kulitku selalu lembab dan berminyak. Lingkungan yg sempurna buat bakteri jerawat berpesta-pora..
Dan setiap hari, selama 4 tahun aku harus bergumul dengan ruangan seperti itu.
Siang-malam..
Dari situlah cerita “cintaku” dengan jerawat dimulai.
Setelah menikah, aku kira jerawatku akan sembuh karena usia yang lebih dewasa..
Tapi ternyata salah..
Di hari pernikahan sepupu suami itu, jerawatku bukan tambah membaik, tapi justru tambah parah, bahkan breakout.
Pemicunya mungkin adalah ketidak-stabilan hormon, karena pada saat itu aku sedang hamil anak pertama.
Bayangin deh kalau kamu ada di posisiku..
Dengan jerawat separah itu, kamu diminta tampil menemani suami ketemu dengan ratusan orang tanpa make up!
Gimana rasanya coba..
Mau ikut pakai make up takut memperparah jerawat, mau tampil tanpa make up juga tidak pede, mau sembunyi juga tidak mungkin karena itu acara penting keluarga suami..
Ugh, ingin rasanya kurobek wajahku dengan tangan lalu lari pulang ke Jogja dan tidak usah bertemu dengan siapapun lagi..
Malu, sedih, marah..
Semua bercampur jadi satu.
Aku harus gimana coba?
Karena bingung, saat itu aku memilih untuk menyendiri saja di ruang makan, tidak ikut ke acara inti..